Edukasi Plus – Transportasi kereta api merupakan salah satu moda andalan masyarakat Indonesia, dikenal efisien dan mampu mengangkut banyak penumpang.
Namun, setiap kali terdengar kabar kecelakaan, sorotan tajam selalu mengarah pada faktor-faktor di baliknya.
Berdasarkan investigasi Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) dan analisis berbagai pihak, kecelakaan kereta api (KA) di Indonesia umumnya bersumber dari tiga faktor utama yang kompleks dan saling terkait.
Lalu, apa saja biang keladi di balik insiden yang kerap menelan korban jiwa ini? Berikut adalah ulasan mendalam mengenai tiga penyebab dominan kecelakaan kereta api.
1. Faktor Manusia (Human Error): Sang Penentu di Balik Kendali
Human error atau kesalahan manusia seringkali di sebut sebagai penyebab paling dominan.
Ini bukan hanya tentang masinis, tetapi juga mencakup seluruh petugas operasional hingga pengatur perjalanan kereta api.
Poin-poin krusial dalam human error meliputi:
- Kelalaian Prosedural: Pelanggaran atau ketidakpatuhan terhadap Standar Operasional Prosedur (SOP), seperti masinis yang melampaui batas kecepatan atau salah membaca sinyal.
- Kelelahan dan Konsentrasi: Kurangnya istirahat atau kondisi fisik yang tidak prima dapat menyebabkan penurunan konsentrasi, berujung pada pengambilan keputusan yang fatal.
- Misinterpretasi Sinyal: Kesalahan dalam memahami atau menafsirkan perintah sinyal, terutama di jalur padat atau saat terjadi gangguan sistem.
Dalam beberapa kasus tabrakan kereta, KNKT sering menemukan akar masalah pada kelalaian petugas dalam menjalankan sistem persinyalan, menunjukkan bahwa faktor manusia adalah lapisan pertahanan terakhir yang sangat vital.
2. Kerusakan Sarana dan Prasarana (Sistem): Ketika Teknologi Gagal Berfungsi
Keselamatan perjalanan kereta api sangat bergantung pada kondisi prima dari sarana (lokomotif dan gerbong) dan prasarana (rel, jembatan, dan sistem persinyalan).
Kerusakan pada sistem mencakup:
- Gangguan Persinyalan: Kegagalan sistem persinyalan, baik karena masalah teknis maupun listrik, dapat menyebabkan dua kereta berada di jalur yang sama (tabrakan) atau memberikan informasi yang keliru kepada masinis. Contoh kasus teranyar sering dipicu oleh anomali persinyalan.
- Kondisi Rel dan Wesel: Rel yang aus, retak, atau kurang terawat, serta wesel (alat pemindah jalur) yang tidak berfungsi optimal, berpotensi besar menyebabkan anjlok atau terguling (derailmen).
- Perawatan Kendaraan: Kurangnya perawatan atau penggunaan suku cadang tidak standar pada lokomotif dan gerbong dapat menyebabkan kerusakan teknis mendadak, seperti rem blong atau as roda patah.
Pentingnya investasi dan pemeliharaan berkala pada infrastruktur kereta api menjadi sorotan utama untuk meminimalisir risiko yang berasal dari faktor ini.
3. Faktor Eksternal (Perlintasan Sebidang dan Bencana Alam): Ancaman Tak Terduga
Faktor eksternal adalah hal-hal yang berasal dari luar sistem perkeretaapian, namun berdampak langsung pada keselamatannya.
Ancaman eksternal yang paling sering terjadi adalah:
- Kecelakaan di Perlintasan Sebidang: Ini merupakan penyumbang kecelakaan tertinggi, melibatkan tabrakan kereta dengan kendaraan jalan raya atau pejalan kaki.
- Penyebab: Umumnya karena pelanggaran lalu lintas oleh pengendara yang nekat menerobos palang pintu, atau karena keberadaan perlintasan liar tak berpalang. Data menunjukkan ribuan perlintasan liar masih menjadi bom waktu di Indonesia.
- Bencana Alam: Longsor, banjir, atau gempa bumi dapat merusak rel, jembatan, atau mengganggu stabilitas jalur. Meski bukan kelalaian operasional, antisipasi dan mitigasi bencana sangat penting dalam operasional kereta api.
Kesimpulan: Keselamatan Adalah Tanggung Jawab Bersama
Mengatasi kecelakaan kereta api memerlukan pendekatan holistik. Tidak cukup hanya menyalahkan human error, tetapi harus di sertai dengan peningkatan kualitas dan pemeliharaan sarana prasarana, serta penegakan disiplin di perlintasan sebidang.
Pemerintah, operator kereta api (PT KAI), dan Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) terus berupaya melalui investigasi mendalam untuk menemukan penyebab laten dan memberikan rekomendasi perbaikan.
Namun, kesadaran masyarakat, terutama di perlintasan sebidang, adalah kunci terakhir untuk menciptakan perjalanan kereta api yang benar-benar aman.








