Edukasi Plus – Berdasarkan berbagai laporan dan analisis, ada pandangan bahwa perekonomian dan politik Indonesia di dominasi oleh segelintir orang yang memiliki kekuasaan dan pengaruh besar.
Fenomena ini sering di sebut sebagai oligarki, di mana sekelompok kecil individu atau keluarga kaya dan berkuasa memegang kendali atas sumber daya dan pengambilan keputusan.
Ciri-ciri oligarki di Indonesia yang sering di bahas meliputi:
Konsentrasi Kekayaan: Sebagian besar kekayaan nasional terkonsentrasi di tangan segelintir orang.
Hal ini terlihat dari data kepemilikan aset, tanah, dan saham di perusahaan-perusahaan besar.
Dominasi Ekonomi dan Politik: Elite bisnis sering kali memiliki hubungan yang erat dengan elite politik.
Mereka mendanai kampanye politik, memiliki posisi strategis di pemerintahan atau partai, dan menggunakan pengaruhnya untuk membentuk kebijakan yang menguntungkan bisnis mereka.
Monopoli Sumber Daya: Beberapa sektor kunci, seperti pertambangan, perkebunan, dan media, di kuasai oleh kelompok-kelompok kecil yang memiliki akses dan koneksi khusus.
Ketimpangan Sosial: Dominasi ini berkontribusi pada kesenjangan ekonomi yang lebar antara kelompok kaya dan mayoritas penduduk.
Pandangan ini di dukung oleh penelitian dari berbagai lembaga, akademisi, dan laporan media yang menyoroti hubungan antara elite politik, pengusaha besar, dan militer yang telah berlangsung selama beberapa dekade.
Bagaimana Segelintir orang Mendominasi?
Ada berbagai analisis yang menunjukkan bagaimana oligarki di Indonesia mendominasi sektor-sektor kunci, seperti sumber daya alam dan media.
Sumber Daya Alam
Sektor pertambangan dan perkebunan di Indonesia sering kali di kuasai oleh segelintir konglomerat.
Banyak dari mereka memiliki hubungan dekat dengan para pembuat kebijakan.
Mereka memperoleh konsesi lahan yang luas dan izin tambang dengan mudah.
Alhasil, keuntungan dari eksploitasi sumber daya alam ini sering kali tidak di nikmati secara merata oleh masyarakat.
Hubungan erat ini juga menyebabkan minimnya pengawasan dan penegakan hukum terhadap pelanggaran lingkungan.
Media
Kepemilikan media massa di Indonesia juga sangat terkonsentrasi.
Beberapa individu atau keluarga menguasai sebagian besar stasiun televisi, media cetak, dan portal berita daring.
Hal ini menimbulkan kekhawatiran karena media dapat digunakan sebagai alat untuk membentuk opini publik, mempromosikan agenda politik tertentu, atau bahkan menekan lawan bisnis dan politik.
Kekuasaan ini bisa memengaruhi hasil pemilihan umum dan membatasi keberagaman pandangan yang sampai ke masyarakat.
Peran Elite dalam Sektor Perbankan
Sektor perbankan di Indonesia di dominasi oleh segelintir konglomerasi keuangan.
Menurut laporan, sekitar 80% aset perbankan di Indonesia di kuasai oleh konglomerasi keuangan ini.
Banyak dari konglomerat ini juga memiliki bisnis di sektor lain, seperti properti, media, dan telekomunikasi.
Pemilik dan Pengendali Bank: Para elite memiliki atau mengendalikan bank-bank besar, baik bank swasta maupun melalui kepemilikan saham di bank BUMN.
Contohnya, beberapa keluarga konglomerat mengendalikan bank-bank swasta terbesar yang kemudian di gunakan sebagai “kasir” atau sumber pendanaan bagi bisnis mereka sendiri.
Risiko Sistemik: Konsentrasi kepemilikan ini menimbulkan risiko sistemik.
Jika satu entitas dalam konglomerasi mengalami masalah keuangan, dampaknya dapat menyebar dengan cepat ke seluruh sistem perbankan nasional.
Interkoneksi Bisnis: Bank milik konglomerat sering kali memberikan kredit kepada perusahaan-perusahaan lain yang masih berada dalam satu grup usaha.
Hal ini memungkinkan mereka untuk membiayai ekspansi bisnis tanpa harus bergantung pada sumber dana eksternal.
Peran Elite dalam Sektor Infrastruktur
Proyek-proyek infrastruktur besar di Indonesia, seringkali didanai oleh pinjaman dari bank-bank besar, termasuk bank milik negara.
Di sinilah peran elite sangat terasa:
Hubungan dengan Pemerintah: Proyek infrastruktur sering kali melibatkan kerja sama dengan pemerintah, baik pusat maupun daerah.
Elite bisnis dengan koneksi politik yang kuat lebih mudah mendapatkan proyek-proyek ini melalui tender atau penunjukan langsung.
Akses Pendanaan: Konglomerat yang memiliki bank sendiri dapat dengan mudah mengakses dana untuk membiayai proyek infrastruktur yang mereka menangkan.
Ini menciptakan lingkaran setan: kekuasaan politik memfasilitasi kemenangan proyek, dan kepemilikan bank memfasilitasi pendanaan.
Pengaruh Kebijakan: Elite bisnis juga memiliki pengaruh dalam pembentukan kebijakan yang mengatur proyek infrastruktur.
Hal ini bisa di lihat dari adanya regulasi atau kebijakan yang menguntungkan konsorsium tertentu dalam memenangkan proyek-proyek strategis.
Secara keseluruhan, hubungan antara elite, perbankan, dan infrastruktur menunjukkan bagaimana kekuasaan ekonomi dan politik saling menguatkan.
Sektor perbankan menjadi “mesin kasir” untuk membiayai proyek-proyek infrastruktur, sementara hubungan politik memastikan proyek-proyek tersebut mendarat di tangan mereka.








