Advertising
Advertising

Apa Sih ‘Panic Buying’ ? Mari kita Simak dan Ketahui Langkah Atasinya !

Edukasi Plus – Beberapa waktu terakhir ini kita sering mendengar tentang orang-orang membicarakan tentang Panic Buying.

Lantas, jadi pertanyaannya apa sih Panic Buying ini? Mari kita ulas bersama yuk!

Secara sederhana, panic buying adalah fenomena ketika orang-orang membeli barang dalam jumlah besar secara mendadak karena rasa takut atau khawatir akan terjadinya kelangkaan di masa depan.

Ini biasanya dipicu oleh situasi darurat, bencana alam, atau krisis tertentu (seperti awal pandemi atau isu kenaikan harga BBM).

Mengapa Hal Ini Terjadi?

Ada beberapa faktor psikologis yang mendasarinya:

  • Rasa Ingin Memegang Kendali: Saat situasi dunia terasa tidak pasti, membeli banyak stok barang membuat seseorang merasa “aman” dan punya kendali atas hidupnya.
  • Insting Bertahan Hidup: Ketakutan bahwa kebutuhan dasar (seperti makanan atau obat-obatan) akan habis memicu otak untuk bertindak cepat.
  • Efek Ikut-ikutan (Herd Behavior): Ketika kita melihat orang lain memborong barang, muncul pikiran, “Kalau mereka beli, berarti saya juga harus beli supaya tidak kehabisan.”

Dampak Buruk Panic Buying

Meskipun niatnya untuk mengamankan diri sendiri, tindakan ini justru merugikan masyarakat luas:

  • Kelangkaan Buatan: Barang menjadi hilang dari rak toko bukan karena produksinya berhenti, tapi karena diborong melebihi kebutuhan normal.
  • Harga Melonjak: Sesuai hukum ekonomi, ketika permintaan sangat tinggi tapi stok menipis, harga barang akan melambung tinggi.
  • Ketidakadilan: Orang yang benar-benar membutuhkan atau mereka yang punya dana terbatas jadi tidak kebagian barang tersebut.

Tips Agar Tidak Terjebak Panic Buying

Cek Fakta: Jangan langsung percaya rumor di media sosial. Pastikan berita kelangkaan berasal dari sumber resmi.

Belanja Sesuai Kebutuhan: Belilah stok untuk jangka waktu yang masuk akal (misalnya untuk 1-2 minggu saja).

Tenangkan Diri: Ingatlah bahwa kepanikan massa seringkali lebih berbahaya daripada krisis itu sendiri.

Pernah Terjadi Panic Buying Bahkan di Negara Sekelas AS

Ada beberapa kasus panic buying yang cukup fenomenal, baik di Indonesia maupun di luar negeri.

Fenomena ini biasanya dipicu oleh hoaks, rasa takut akan krisis, atau anjuran kesehatan yang kurang tepat.

Berikut adalah ulasan beberapa kasus besar yang pernah terjadi:

1. Masker dan Hand Sanitizer (Awal Pandemi 2020)

Ini adalah kasus paling merata di seluruh dunia, termasuk Indonesia.

Begitu kasus COVID-19 pertama diumumkan, orang-orang menyerbu apotek dan swalayan.

Dampaknya: Harga masker yang biasanya Rp20.000 per kotak melonjak hingga Rp300.000–Rp500.000.

Pelajaran: Tenaga medis justru sempat kesulitan mendapatkan alat pelindung diri (APD) karena stoknya habis diborong masyarakat umum yang sebenarnya belum tentu terpapar risiko tinggi.

2. Tisu Toilet (Australia, AS, dan Inggris – 2020)

Kasus ini sempat menjadi bahan tertawaan sekaligus keprihatinan di internet.

Di negara-negara Barat, terjadi kelangkaan tisu toilet yang parah.

Pemicunya: Bukan karena virus menyerang sistem pencernaan, melainkan karena ukuran kemasan tisu toilet yang besar.

Begitu rak tisu kosong (karena hanya butuh sedikit pembeli untuk menghabiskan ruang rak), orang-orang yang melihat rak kosong tersebut langsung merasa panik secara visual dan ikut memborong.

Dampaknya: Banyak toko harus menerapkan kuota maksimal 1 pak per orang.

3. Susu Beruang/Bear Brand (Indonesia – Juli 2021)

Saat varian Delta merebak di Indonesia, video orang-orang berebut susu kaleng ini di sebuah grosir menjadi viral.

Pemicunya: Muncul narasi di media sosial bahwa susu ini bisa menangkal atau menyembuhkan COVID-19.

Meskipun para ahli medis sudah menjelaskan bahwa susu adalah asupan nutrisi biasa dan bukan obat COVID, kepanikan tetap terjadi.

Dampaknya: Harga satu kaleng yang biasanya Rp8.000–Rp9.000 sempat dijual hingga Rp15.000–Rp20.000 di toko online.

4. Minyak Goreng (Indonesia – Awal 2022)

Berbeda dengan kasus pandemi, ini dipicu oleh kebijakan harga dan gangguan rantai pasok.

Ketika pemerintah menetapkan kebijakan satu harga (HET), stok di pasar ritel modern tiba-tiba menghilang.

Dampaknya: Antrean panjang terjadi di mana-mana. Banyak ibu rumah tangga harus membawa anak-anak mereka untuk mengantre demi mendapatkan kuota minyak goreng.

Pemicunya: Gabungan antara kebijakan harga, dugaan penimbunan oleh oknum, dan ketakutan masyarakat bahwa harga akan naik lagi atau barang benar-benar hilang dari pasar.

Mengapa Kita Perlu Menghindari Ini?

Secara psikologis, panic buying adalah “kegagalan kolektif”.

Saat semua orang ingin aman sendiri, sistem distribusi akan runtuh, dan akhirnya semua orang (termasuk si pembeli panik tersebut) akan mengalami kesulitan yang lebih besar di masa depan.

Apa pendapat kalian? Silahkan tinggal pendapat kalian di Kolom Komentar ya, Mari kita berbagi informasi.

Jika puas dengan artikel ini, jangan lupa share.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *